Jumat, 23 Juli 2010

SUSTAINABILITY, EKOLOGI DAN EKO - WISATA SARANA UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


SUSTAINABILITY, EKOLOGI DAN EKO - WISATA
SARANA UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN



 I. PENDAHULUAN
Pariwisata selalu dikaitkan dengan lokasi tertentu (place). Masyarakat yang hidup disekitar lokasi wisata tidak hanya menyediakan servis tetapi juga sarana dan prasarana yang dibutuhkan didaerah wisata. Hal ini dimaksudkan agar wisatawan yang dating bisa menikmati kunjungannya dengan nyaman. Lokasi wisata adalah obyek yang paling penting dalam perencanaan eko – wisata. Setiap perencanaan eko – wisata haruslah terfokus kepada budaya dan ekonomi lokal dengan tujuan untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan keuntungan.

Beberapa dasawarsa terakhir pariwisata menjadi salah satu andalan pemasukan devisa dan juga menjadi kekuatan budaya dan ekonomi. Pariwisata yang spesifik dibutuhkan dewasa ini sebagai alternatif pariwisata yang berkelanjutan yang sering disebut eko-wisata.


• II. PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABILITY)
Arsitektur di abad ke 20 ditandai dengan jaman Industri dan Teknologi yang mensupart berdirinya bangunan bangunan modern tingkat tinggi skyscrappers didaerah urban i semua belahan dunia. Pada saat sekarang banyak sekali perubahan, arsitektur dan planning lebih berorientasi ke masalah informasi dan lingkungan sebagai reaksi atas menurunnya kwalitas lingkungan dengan moto ’how to construct a human habitat in harmony with nature’ (Wines 1998, 8). Istilah istilah yang digunakan dalam arsitektur seperti ’sustainable’, ’ecological’ dan ’green’ memberikan konotasi ’environmentally responsive architecture’ (arsitektur yang berwawasan lingkungan). Tetapi apabila dikaji lebih dalam lagi istilah istilah diatas satu dan yang lainnya mempunyai pengertian dan penekanan yang berbeda dalam implikasinya dengan masalah sosial dan politik.

’Sustainability’ (kesinambungan) adalah istilah yang paling ’dalam’ diantara ketiga istilah diatas yang dicetuskan oleh United Nations dalam kaitannya dengan ’growth and sevelopment’ (pertumbuhan dan perkembangan) yang berkelanjutan. Sustainability as defined as ”meeting the needs of today without sacrificing the ability of the future generation to meet their own needs” (pertemuan antara ‘kebutuhan’ pada masa kini dengan tidak mengorbankan ‘kebutuhan’ generasi yang akan datang). Tetapi manakala istilah ‘kebutuhan’ mulai muncul terjadi perdebatan karena kebutuhan generasi masa kini ada kemungkinan tidak sama dengan kebutuhan masa yang akan datang tergantung dari status perkembangan yang dibutuhkan. ‘Needs’ (kebutuhan) antara satu kelompok masyrakat dengan kelompok lain dibelahan bumi ini tentu berbeda tergantung dari status pengembangan yang akan dicapai.

Menurut definisi Brundtland Commission’ salah satu Komisi Lingkungan dan Sumber Daya Alam di United Nation (PBB) istilah ’sustainability’ dikaitkan dengan masalah masalah penting yang mulai mengalami degradasi di belahan dunia ini (Steele 2005, 6):

• Resource Equity Mendorong terciptanya innovasi baru dalam mendapatkan alternative sumber energi yang juga mempunyai nilai bagi yang lain yang ramah lingkungan

• Embodied Energy
Penghematan sumber daya alam yang mulai menurun

• Global Community
Perancang dalam menuangkan karyanya berfikir secara holistik (global) dengan memperkirakan sebab akibat dampaknya terhadap lingkungan ’Think Globally Act Locally’

• Economics
Dalam pandangan ekologis yang baru seorang perancang seharusnya memberi perhatian pada bidang bidang lain terutama masalah sosial ekonomi

• Renewability
Pandangan baru tentang penggunaan material yang bisa tahan lama dan memungkinkan untuk bisa digantikan dengan material lain tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan.

• Traditional Wisdom
Arsitektur tradisional dan vernakular mengajarkan kearifan bahwa arsitektur lokal dalam memecahkan masalah ’bentuk arsitektur’ adalah hasil ’komunikasi dengan gejala alam’

• Technology
Teknologi yang tepat adalah teknologi yang yang tidak memberikan dampak negatif dan tidak merusak lingkungan.

• II. EKOLOGI DAN GERAKAN HIJAU
’Ecology’ adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara semua makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi pada perkembangannya ekologi dikaitkan dengan ’built environment’ . ’Ecological’ banyak dikaitkan dengan ’the global environmental movement’ yang terjadi di Amerika pada akhir th 60’ an yang tujuannya adalah mengatasi masalah polusi, sampah beracun dan perkembangan penduduk yang cepat. Issu inilah yang digunakan Presiden Richard Nixon untuk memenangkan Pemilu di Amerika pada tahun 1970. Pada masa pemerintahan Presiden Jimmy Carter pertengahan tahun 70’s an terjadi krisis energy di Amerika diiringi membubungnya harga minyak. Pada masa itulah para arsitek mulai memfokuskan pada ’reseponse to energy concern’ memperhatikan masalah penghematan energi dalam desain arsitektur.

’The Green Movement’ mulai gerakannya pada tahun 1980’ an, merupakan gerakan radikal dari ’Global Environmental Movement’ yang sudah mulai gerakannya tahun 1960’ an. The Green Movement mulai masuk dalam kancah politik pemerintahan di Inggris sebagai reaksi dalam masalah polusi industri di Eropa Barat. Pada pekembangannya gerakan ini menjadi salah satu partai politik The Green Party yang didirikan tahun 1986 (Hojat 1998, 38). Sebenarnya istilah ’Green’ dan ’Ecological Movement’ di Eropa Barat sudah dimulai sebelum itu ’Grune Aktion Zukumft’ (The Green Action Campaign) dan ‘Grune Listen’ (The Green List). Kedua gerakan tersebut aktif dalam menentang program pemerintah Jerman Barat dalam penggunaan tenaga nuklir tahun 970. Di Perancis Green Party berdiri tahun 1984. Gerakan semacam yang paling agresive adalah gerakan organisasi internasional ‘The Green Peace’ yang menantang segala macam pengrusakan lingkungan dan kekerasan pada binatang.

Di negara negara Uni-Eropa disepakati dalam ’Green Paper on Urban Environment’ (1990) ditandai dengan dimulainya aturan aturan yang dikeluarkan pjhak pemerintah Negara masing masing masuknya unsure lingkungan dalam planning and building strategyto improve environmental sensibility. Pada pertemuan puncak masalah lingkungan di Brazil pada tahun 1992 ’Rio Earth Summit’ dideklarasikan ’Agenda 21’ yang berisi kesepakatan tentang perlindungan sumber daya alam negara negara berkembang (Wines 1998, 9). Konsep konsep environmental concern dalam arsitektur dan planning yang menonjol adalah gerakan ”Green City Movement’ yang dicetuskan Ebenezer Howard pada tahun 1925 yang kemudian banyak dikembangkan di Eropa dan daerah kolnial negara negara Eropa Barat. Di Indonesia konsep Garden City banyak dikembangkan Thomas Karsten pada kota kota di Indonesia sejak 1930 – 1940.

• IV. EBENEZER HOWARD DAN KONSEP GARDEN CITY
Sir Ebenezer Howard mula mula dikenal sebagai pemimpin ’Arts and Crafts Movement’ mengadakan kompetisi planning dan arsitektur desain untuk untuk daerah pinggiran kota London pada tahun 1903 dengan tema ’return people to their lost paradise’. Dari hasil kompetisi itulah memberikan inspirasi dari Sir Howard untuk mengembangkan konsep pada di Inggris. Ide tersebut dengan tujuan menggabungkan perpaduan antara kota dan pinggiran/desa sebagai ‘built and natural environment. Howard menerbitkan buku ’Tomorow: A Peaceful Path to Realm Reform’ dan diulang dengan judul yang lain pada tahun 1902 ’Garden Cities of tomorow’ (Steel 2005, 49).

Aplikasi yang pertama dari konsep Garden City adalah kota taman di Bedford, Inggris yang kemudian dijadikan model. Kota taman tersebut mulai direncanakan sejak th 1875. Konsep perencanaan pada area ini perumahan Georgian Style dengan perbandingan antara area terbanguan dengan lahan terbuka adalah 40%:60% untuk bisa mendapatkan karakter arsitektur yang ’stabil dan nyaman’ (stability and comfort). Selain itu pada sepanjang jalan lingkungan penghijauan dengan penanaman pohon yang tinggi. Sedangkan pada tengah - tengah pertigaan dan perempatan dibangun taman sebagai penghijauan. Area ini dilengkapi sengan fasilitas fasilitas Gereja St Michaels Church, sekolah dan dan sarana rekreasi. Type rumah yang diaplikasikan adalah Queen Anne Style semi detached house (Rumah Koppel) sebanyak 900 bangunan dengan luas 113 acre.

Proposal untuk Hampstead Garden Suburb (Pinggiran London) tahun 1907 adalh hasil pengaruh dari konsep Garden City yang dikembangkan masyarakat setempat yang dipimpin Hernietta Barrett. Planning proposal ini dimaksudkan menyelamatkan Kota London dari pertukembangannya yang cepat dan membatasi London Center pengaruh polusi dari area Industrial Estate di pinggiran London. Planning propoal tersebut akhirnya disetujui dan menghijaukan wilayah Hampstead yang menjadi pembatas antara london Center dan Industrial Estate West Hamstead. Daerah ini dijadikan daerah yang tenang bahkan tidak didirikan gereja karena lonceng gereja akan mengganggu ketenangan daerah ini.

Perencanaan yang proporsional dari Welwyn Garden City tahun 1920 yang juga melibatkan komunitas setempat dengan konsep ‘Agricultural Belt’ untuk menlindungi daerah Welwyn dari polusi industri disekitarnya dengan adanya penghijauan dan daerah agriculture sebagai sabuk hijau.

V. EKO – WISATA
Pariwisata Resort berkembang pesat sejak abad ke 20 dan hal ini yang menarik geographer, sosiologit dan anthropologists untuk melakukan penelitian di tahun 1970 an. Topik yang diteliti adalah dampak yang ditimbulkan akibat kunjungan wisata besar besaran. Lea berargumen bahwa:
”... tourism maintains an unequal relationship rooted in Western imperialism. Extensive leasure time, a product of urban metropolitan societies, fosters tourism as pervasive social phenomenon and thus metropolitan production centers dominate the creation and control of tourist which are often the periphery” (Lea 1988).

Ekotourism atau ekowisata adalah suatu instrumen potensial untuk meningkatkan ekonomi wisata di rural area (lokasi di pedesaan) dan konservasi lingkungan. Eko – Wisata dijalankan dibawah naungan ‘the overlap between nature tourism and sustainable tourism’ untuk bisa difokuskan pada dimensi sosial untuk keberlangsungan konservasi lingkungan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar