Kamis, 30 November 2017

Kisah tafsir kyai Nusantara

Sekitar tahun 1830-an. Ada seorang Kyai jawa yang luar biasa luas ilmunya sangat tawadhu, yang tinggal di Syi'bi Ali makkah karena mendapat tekanan pengusiran dari Banten oleh penjajah belanda (karena dianggap simpatisan Pangeran Diponegoro). Mula-mula muridnya puluhan saja, lama-lama semakin banyak, ada santri-santri dari jawa minta dibuatkan syarah kitab-kitab fiqh yang bernuansa jawa agar lebih difahami, maka dikaranglah kitab syarah seperti : Sullam al-Munâjah (syarah Safînah al-Shalâh), Baĥjah al-Wasâil (syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah) al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb (syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb), Niĥâyah al-Zayyin (syarah Qurrah al-‘Ain), Marâqi al-‘Ubûdiyyah (syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah), Tîjân al-Darâry (syarah Matan al-Baijûry), Fath al-Mujîb (syarah Mukhtashar al-Khathîb), Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq (syarah Sulam al-Taufîq), Kâsyifah al-Sajâ (syarah Safînah al-Najâ) dll. Beliau juga menulis karangan dari pelbagai disiplin ilmu seperti tauhid, tashawuf, tajwid, hadits dll. Oleh santri-santri itu Kitab-kitab beliau lalu dicetak di mesir untuk diperbanyak dan disebar dijawa. Suatu ketika santri-santri itu bilang, " Kyai tulunglah pingin punya tafsir bernuansa jawa agar lebih difahami orang jawa." Tapi Sang Kyai Albantani butuh waktu lama untuk menulis Kitab tafsir ini sekalipun dorongan yang bertubi-tubi datang dari berbagai pihak. Karena khawatir terjerumus pada ancaman Nabi yang mengatakan “barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan ra’yunya, maka silahkan mengambil tempat di neraka”. Setelah beristikhoroh, sang Kyai akhirnya memutuskan untuk menulis Kitab tafsir itu sebagai upaya meneladani ulama’ salaf yang senantiasa menulis dan membukukan pemikiran-pemikirannya. Oleh sang santri kitab Tafsir itu dicetak lagi di Mesir dan beredar. Ada cendikiawan muda mesir ngga terima, karena mengarang tafsir itu nggak gampang, harus ahli tentang asbabun nuzul, ada ayat muqaddamah-muakhoroh, nahariyah-lailiyah, hadloriyah-safariyah, nasikhoh mansukhoh, mujmalah-mufassolah, muthlaqoh-muqoyyadah, apalagi sastra qowaid arabiyah, arudl, balaghoh, mantiq, hadits, asbabul wurud, dsb. Harus tahu ayat tasyri', ayatul ahkam, ayatul aqidah, ayatul uluhiyyah, ayatun nabawiyah, ayatul ma'ad, ayatul kaun, harus tahu semuanya. Pikirnya," Lha ini ada orang jawa buat kitab tafsir, tahunya dari mana??! " Maka cendikiawan itu datang ke percetakan, "Ini karangan siapa?! " Dijawab, "Syekh dari jawa, udah banyak tuh karangannya, " "Tolong, suruh datang ke mesir, kita debat tentang tafsir, sombong betul orang jawa bikin tafsir, Ayo kita bedah buku. " Singkat cerita sang kyai Jawa mendapat undangan bedah buku tentang kitab tafsirnya. Apa jawab sang Kyai? "Alhamdulillah, berarti kitab saya yang masih banyak salahnya itu akan dibetulkan... " begitu tawadlu beliau, akhlak diutamakan. ( coba kalo ustad/sarjana sekarang? Mungkin jawabnya, " Eeeh, ndlakdak kiye bocah wingi sore, Ayoh srog arep model apa? Lor apa kidul? ) Berangkatlah sang kyai membawa santrinya : Ahmad, naik kapal ke mesir, sampai mesir menyewa onta melewati padang pasir, kira-Kira kurang 5 km dari tempat pertemuan, beliau beristirahat. "Ahmad kita berbuka disini". Bekal dibuka isinya roti gandum kering di celup air putih. Lalu sang kyai menulis surat, lalu berkata, "Ahmad, baca ini, hafalkan! " lalu Sang Kyai sholat . Selesai sholat, sang kyai berkata, "Ahmad, kau mengganggap saya siapa? " " Tentu saja anda Guru saya yang harus ditaati", jawab Ahmad. "Betul begitu?" "Tentu saja kyai" "Baik, sekarang lepas pecimu", perintah sang Kyai. Ahmad melepas peci sambil kebingungan. "Sekarang Pakai ini", Sang kyai melepas peci sorbannya, diserahkan pada Ahmad. "Kyai??! ", Ahmad terhenyak. "Katanya nurut? " "Iya Kyai". "Lepas bajumu ". Maka baju Ahmad pun dipakai sang kyai lengkap hingga sandalnya. "Kyai, mana boleh saya pakai baju njenengan?! " "Katanya harus taat? " "Iya Kyai, tapi.. Astagfirullah.. Kalo begini Bagaimana ini Ya Allah ?? Begitulah, Kyai Nawawi banten memakai baju santrinya, sementara si santri memakai surban dan jubah kebesaran Sang Kyai duduk di atas onta sambil gemetaran karena dituntun Sang kyai sendiri.. Masya Allah.. Ditempat pertemuan, para hadirin berdiri menyambut kedatangan sang mufassir, Semua orang pingin bersalaman, mencium tangan, mengharapkan berkah dari " Ahli Tafsir " yang duduk diatas onta, sementara Sang Kyai yang menuntun onta, tak ada yang mencium tangannya. Karena dianggap pelayan si "Ahli tafsir ". Masuk ruang pertemuan, panitia memanggil: "Mana tadi pelayan Tuan Ahli Tafsir? Itu tolong bawa sandal tuanmu ya? Sang Kyaipun berjalan dibelakang "Tuan Ahli Tafsir" sambil membawa sandalnya. (La ilaha illallah.. Karena ini kelak Kyai Nawawi terkenal pernah membawakan sandal santrinya). Ahmad duduk diatas podium, dengan sorban dan jubah kebesaran, sementara sang kyai berdiri di belakangnya mengepit sandalnya. Mulailah ketua panitia pidato, : "Alhamdulillah ..sudah hadir di hadapan kita seorang Mufasir yang dikenal dengan nama Syekh Muhammad Nawawi Al Jawiy pengarang kitab Tafsir Muroh Labid, silakan kira tanyakan dan koreksi Tafsirnya, kita pertemukan satu kebenaran melalui tafsir beliau. Silakan Syekh.. " Naiklah Ahmad (melafadzkan teks pidato yang sudah ditulis Kyai Nawawi dan dihafalkan sebelumnya itu), "Assalamualaikum... Wr.wb. Saya ini orang jawa , maka tafsir yang saya buat adalah tafsir bernuansa jawa, sudah barang tentu bahasanya kurang baik bila diukur dengan kaidah bahasa arab. Karena itu saya sangat senang sekali diundang kesini karena tafsir saya yang salah akan dibenarkan semua. Alhamdulillah silakan anda semua bertanya apa saja tentang tafsir saya, saya siap!. Cuma karena saya capek baru saja melakukan perjalanan jauh, maka saya wakilkan jawabannya pada Santri yang bersama saya. "Santri..".Ahmad menoleh pada sang kyai, "tolong acara ini diteruskan sampean ya ?" "injih" Ahmad duduk, Kyai Nawawi berdiri. Sambil mengepit sandal Ahmad.. . Para panitia merasa dilecehkan, semua mangkel, "kurang ajar! Jauh-jauh diundang kesini malah diwakilkan santrinya" Lalu pada berunding, " Ayo kita jatuhkan saja! Dari ayat sekian ayat mutasyabihah, dikoreksi, ayat ini secara lughot bagaimana? Secara mantiq, balaghoh? Dan seterusnya... Baru kemudian secara asbabun nuzul, secara fiqih, ushul fiqh, ..teruss.. Ternyata Sampai 4 jam satu ayat belum selesai diterangkan Kyai Nawawi Banten! Semua Hadirin berdiri dan takbir.. Allahu Akbar ..Ini orang alim luar biasa, padahal baru santrinya apalagi syekhnya.. __________ Sebegitu hebatnya Imam Nawawi Albantaniy dengan kitab Tafsirnya yang monumental “al-Munir li Ma’alim at-Tanzil” atau dalam judul lain “Murah Labid Likasyfi Ma’na Qur’an Majid”. Sejajar dengan Tafsir Jalalain bagi santri-santri jawa. Bahkan atas kecemerlangannya dalam menulis tafsir itu, oleh ulama’ Mesir, Imam Nawawi diberi gelar Sayyidul ulama al-Hijaz (pemimpin ulama’ Hijaz) Tapi ternyata setiap menulis Kitabnya beliau selalu menyebut dirinya sebagai : Qola al muqoshshirul mudznib Berkata seorang yang belum bisa ibadah dan banyak dosa! Beliau nggak menulis gelarnya : Sarjana tafsir kek, sarjana theology apalah. *(Yusuf Suharto)*

Selasa, 01 Juli 2014

Kisah Nabi Sholeh

Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama " Alhijir " terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud A.S.

Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mrk berqurban, tempat mrk minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.Mrk tidak dpt melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dpt mrk jangkau dengan pancaindera.


Nabi Saleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba_Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mrk keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mrk diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mrk telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mrk sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Dikenalkan mrk oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mrk sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mrk, menciptakan alam sekitar mrk, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bhn-bhn keperluan hidup mrk, mencipta binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mrk dan dengan demikian memberi kepada mrk kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mrk sembah dan bukan patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mrk atau melindungi mrk dari ketakutan dan bahaya.

Nabi Saleh memperingatkan mrk bahwa ia adlah seorang drp mrk, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mrk adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mrk.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mrk dan sesekali tidak akan menjerumuskan mrk ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mrk. Ia menerangkan kepada mrk bahwa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah, dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mrk adalah amanat Allah yang harus dia sampaikan kepada mrk untuk kebaikan mrk semasa hidup mrk dan sesudah mrk mati di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mrk segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mrk lakukan.Allah maha dekat kepada mrk mendengarkan doa mrk dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.

Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mrk merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mrk sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya:"Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan.Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Enkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk selama-lamanya.Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mrk dan mengikuti jejakmu."

Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengurniai mrk rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mrk kisah kaum-kaum yang mendapat seksa dan azab dari Allah karena menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu dpt terjadi di atas mrk jika mrk tidak mahu menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mrk dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah drp mrk atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah yang ditugaskan kepadanya dan Allahlah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mrk.

Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkannya terdiri dari orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya mrk yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya:" Wahai Saleh! Kami kira bahwa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir.Engkau telah menjadi sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu drp kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi nabi atau rasul drp engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi kaummu.Jika engkau merasa bahwa engkau sihat badan dan sihat fikiran dan mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri.Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu.

Nabi Saleh menjawab: " Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun drpmu sebagai imbalan atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan drp-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku.Jgnlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu. Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu."

Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendpt perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mrk menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Allah Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh A.S.

Nabi Saleh sedar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti drpnya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mrk. Nabi Saleh membalas tentangan mrk dengan menuntut janji dengan mrk bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mrk minta bahwa mrk akan meninggalkan agama dan persembahan mrk dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdpt di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.
Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mrk:" Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendptkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendptkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini."
Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendpt gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yyang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.

Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendtgkan mukjizat yang mrk tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mrk pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mrk serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.

Unta Nabi Saleh Dibunuh

Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mrk, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dpt membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.

Dua macam hadiah yyang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh.
Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta-unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda' yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.

Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendpt sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mrk kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang.
Berkata mrk kepada Nabi Saleh:" Wahai Saleh! Untamu telah amti dibunuh, cubalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."

Nabi Saleh menjawab:" Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu.Kamu telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya.Janji Allah tidak akan meleset .Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan taqdir-Nya yang tidak dpt ditunda atau dihalang."

Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mrk sedar akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.
Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.

Turunnya Azab Allah Yang Dijanjikan

Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mrk akan didahului dengan tanda-tanda, iaitu pada hari pertama bila mrk terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mrk menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.
Mendebgar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabu Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu.Mrk mengadakan pertemuan rahsia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identiti mrk sebagai pembunuhnya. Rancangan mrk ini dirahsiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.

Ketika mrk datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mrk di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindingi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah " Al-Qamar " ayat 23 sehingga ayat 32.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh A.S.

Pengajaran yang menonjol yang dpt dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dpt berakibat negatif yang membinasakan masyarakat itu seluruhnya.
Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi karena dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh A.S.
Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Karena dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam masyarakat dan lindungan kita ,kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu

Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.

Kisah Nabi Hud

"Aad" adalah nama bapa suatu suku yang hidup di jazirah Arab di suatu tempat bernama "Al-Ahqaf" terletak di utara Hadramaut atr Yaman dan Umman dan termasuk suku yang tertua sesudak kaum Nabi Nuh serta terkenal dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yang besar dan sasa. Mereka dikurniai oleh Allah tanah yang subur dengan sumber-sumber airnya yang mengalir dari segala penjuru sehinggakan memudahkan mereka bercucuk tanam untuk bhn makanan mrk. dan memperindah tempat tinggal mereka dengan kebun-kebun bunga yang indah-indah. Berkat kurnia Tuhan itu mereka hidup menjadi makmur, sejahtera dan bahagia serta dalam waktu yang singkat mereka berkembang biak dan menjadi suku yang terbesar diantara suku-suku yang hidup di sekelilingnya.

Sebagaimana dengan kaum Nabi Nuh kaum Hud ialah suku Aad ini adalah penghidupan rohaninya tidak mengenal Allah Yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta. Mereka membuat patung-patung yang diberi nama " Shamud" dan " Alhattar" dan itu yang disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaan mereka dpt memberi kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah. Ajaran dan agama Nabi Idris dan Nabi Nuh sudah tidak berbekas dalam hati, jiwa serta cara hidup mereka sehari-hari. Kenikmatan hidup yang mereka sedang tenggelam di dalamnya berkat tanah yang subur dan menghasilkan yang melimpah ruah menurut anggapan mereka adalah kurniaan dan pemberian kedua berhala mereka yang mereka sembah. Karenanya mereka tidak putus-putus sujud kepada kedua berhala itu mensyukurinya sambil memohon perlindungannya dari segala bahaya dan mushibah berupa penyakit atau kekeringan.

Sebagai akibat dan buah dari aqidah yang sesat itu pergaulan hidup mereka menjadi dikuasai oleh tuntutan dan pimpinan Iblis, di mana nilai-nilai moral dan akhlak tidak menjadi dasar penimbangan atau kelakuan dan tindak-tanduk seseorang tetapi kebendaan dan kekuatan lahiriahlah yang menonjol sehingga timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di dalam masyarakat di mana yang kuat menindas yang lemah yang besar memperkosa yang kecil dan yang berkuasa memeras yang di bawahnya. Sifat-sifat sombong, congkak, iri-hati, dengki, hasut dan benci-membenci yang didorong oleh hawa nafsu merajalela dan menguasai penghidupan mereka sehingga tidak memberi tempat kepada sifat-sifat belas kasihan, sayang menyayang, jujur, amanat dan rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku Aad tatkala Allah mengutuskan Nabi Hud sebagai nabi dan rasul kepada mereka.

Nabi Hud Berdakwah Di Tengah-tengah Sukunya

Sudah menjadi sunnah Allah sejak diturunkannya Adam Ke bumi bahawa dari masa ke semasa jika hamba-hamba-Nya sudah berada dalam kehidupan yang sesat sudah jauh menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh Nabi-nabi-Nya diutuslah seorang Nabi atau Rasul yang bertugas untuk menyegarkan kembali ajaran-ajaran nabi-nabi yang sebelumnya mengembalikan masyarakat yang sudah tersesat ke jalanlurus dan benar dan mencuci bersih jiwa manusiadari segala tahayul dan syirik menggantinya dan mengisinya dengan iman tauhid dan aqidah yang sesuia dengan fitrah.

Demikianlah maka kepada suku Aad yang telah dimabukkan oleh kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak mengenalkan Tuhannya yang mengurniakan itu semua. Di utuskan kepada mereka Nabi Hud seorang drp suku mereka sendiri dari keluarga yang terpandang dan berpengaruh terkenal sejak kecilnya dengan kelakuan yang baik budi pekerti yang luhur dan sgt bijaksana dalam pergaulan dengan kawan-kawannya.
Nabi Hud memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaumnya suku Aad kepada tanda-tanda wujudnya Allah yang berupa alam sekeliling mereka dan bahawa Allahlah yang mencipta mereka semua dan mengurniakan mereka dengan segala kenikmatan hidup yang berupa tanah yang subur, air yang mengalir serta tubuh-tubuhan yang tegak dan kuat. Dialah yang seharusnya mereka sembah dan bukan patung-patung yang mereka perbuat sendiri. Mereka sebagai manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang tidak sepatutnya merendahkan diri sujud menyembah batu-batu yang sewaktunya dpt mereka hancurkan sendiri dan memusnahkannya dari pandangan.

Di terangkan oleh Nabi Hud bahaw adia adalah pesuruh Allah yang diberi tugas untuk membawa mereka ke jalan yang benar beriman kepada Allah yang menciptakan mereka menghidup dan mematikan mereka memberi rezeki atau mencabutnya drp mereka. Ia tidak mengharapkan upah dan menuntut balas jasa atas usahanya memimpin dan menuntut mereka ke jalan yang benar. Ia hanya menjalankan perintah Allah dan memperingatkan mereka bahawa jika mrk tetap menutup telinga dan mata mrk menghadapi ajakan dan dakwahnya mereka akan ditimpa azab dan dibinasakan oleh Allah sebagaimana terjadinya atas kaum Nuh yang mati binasa tenggelam dalam air bah akibat kecongkakan dan kesombongan mereka menolak ajaran dan dakwah Nabi Nuh seraya bertahan pada pendirian dan kepercayaan mereka kepada berhala dan patung-patung yang mereka sembah dan puja itu.

Bagi kaum Aad seruan dan dakwah Nabi Hud itu merupakan barang yang tidak pernah mrk dengar ataupun menduga. Mereka melihat bahawa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud itu akan mengubah sama sekali cara hidup mereka dan membongkar peraturan dan adat istiadat yang telah mereka kenal dan warisi dari nenek moyang mereka. Mereka tercengang dan merasa hairan bahawa seorang dari suku mereka sendiri telah berani berusaha merombak tatacara hidup mereka dan menggantikan agama dan kepercayaan mereka dengan sesuatu yang baru yang mereka tidak kenal dan tidak dpt dimengertikan dan diterima oleh akal fikiran mereka. Dengan serta-merta ditolaklah oleh mereka dakwah Nabi Hud itu dengan berbagai alasan dan tuduhan kosong terhadap diri beliau serta ejekan-ejekan dan hinaan yang diterimanya dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.

Berkatalah kaum Aad kepada Nabi Hud:"Wahai Hud! Ajaran dan agama apakah yang engkau hendak anjurkan kepada kami? Engkau ingin agar kami meninggalkan persembahan kami kepada tuhan-tuhan kami yang berkuasa ini dan menyembah tuhan mu yang tidak dpt kami jangkau dengan pancaindera kami dan tuhan yang menurut kata kamu tidak bersekutu. Cara persembahan yang kami lakukan ini ialah yang telah kami warisi dari nenek moyang kami dan tidak sesekali kami tidak akan meninggalkannya bahkan sebaliknya engkaulah yang seharusnya kembali kepada aturan nenek moyangmu dan jgn mencederai kepercayaan dan agama mereka dengan memebawa suatu agama baru yang tidak kenal oleh mereka dan tentu tidak akan direstuinya."

Wahai kaumku! jawab Nabi Hud,Sesungguhnya Tuhan yang aku serukan ini kepada kamu untuk menyembah-Nya walaupun kamu tidak dpt menjangkau-Nya dengan pancainderamu namun kamu dpt melihat dam merasakan wujudnya dalam diri kamu sendiri sebagai ciptaannya dan dalam alam semesta yang mengelilingimu beberapa langit dengan matahari bulan dan bintang-bintangnya bumi dengan gunung-ganangnya sungai tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang kesemuanya dpt bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Dan menjadi kamu dpt menikmati kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Tuhan itulah yang harus kamu sembah dan menundukkan kepala kamu kepada-Nya.Tuhan Yang Maha Esa tiada bersekutu tidak beranak dan diperanakan yang walaupun kamu tidak dpt menjangkau-Nya dengan pancainderamu, Dia dekat drp kamu mengetahui segala gerak-geri dan tingkah lakumu mengetahui isi hati mu denyut jantungmu dan jalan fikiranmu. Tuhan itulah yang harus disembah oleh manusia dengan kepercayaan penuh kepada Keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya dan bukan patung-patung yang kamu perbuat pahat dan ukir dengan tangan kamu sendiri kemudian kamu sembah sebagai tuhan padahal ia suatu barang yang pasif tidak dapat berbuat sesuatu yang menguntungkan atau merugikan kamu. Alangkah bodohnya dan dangkalnya fikiranmu jika kamu tetap mempertahankan agamamu yang sesat itu dan menolak ajaran dan agama yang telah diwahyukan kepadaku oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa itu."

Wahai Hud! jawab kaumnya,"Gerangan apakah yang menjadikan engkau berpandangan dan berfikiran lain drp yang sudah menjadi pegangan hidup kami sejak dahulu kala dan menjadikan engkau meninggalkan agama nenek moyangmu sendiri bahkan sehingga engkau menghina dan merendahkan martabat tuhan-tuhan kami dan memperbodohkan kami dan menganggap kami berakal sempit dan berfikiran dangkal? Engkau mengaku bahwa engkau terpilih menjadi rasul pesuruh oleh Tuhanmu untuk membawa agama dan kepercayaan baru kepada kami dan mengajak kami keluar dari jalan yang sesat menurut pengakuanmu ke jalan yang benar dan lurus. Kami merasa hairan dan tidak dpt menerima oleh akal kami sendiri bahwa engkau telah dipilih menjadi pesuruh Tuhan. Apakah kelebihan kamu di atas seseorang drp kami , engkau tidak lebih tidak kurang adalah seorang manusia biasa seperti kami hidup makan minum dan tidur tiada bedanya dengan kami, mengapa engkau yang dipilih oleh Tuhanmu? Sungguh engkau menurut anggapan kami seorang pendusta besar atau mungkin engkau berfikiran tidak sihat terkena kutukan tuhan-tuhan kami yang selalu engkau eje hina dan cemuhkan."

Wahai kaumku! jawab Nabi Hud, "aku bukanlah seorang pendusta dan fikiran ku tetap waras dan sihat tidak krg sesuatu pun dan ketahuilah bahwa patung-patungmu yang kamu pertuhankan itu tidak dpt mendatangkan sesuatu gangguan atau penyakit bagi bandaku atau fikiranku. Kamu kenal aku, sejak lama aku hidup di tengah-tengah kamu bahawa aku tidak pernah berdusta dan bercakap bohong dan sepanjang pergaulanku dengan kamu tidak pernah terlihat pd diriku tanda-tanda ketidak wajaran perlakuanku atau tanda-tanda yang meragukan kewarasan fikiranku dan kesempurnaan akalku. Aku adalah benar pesuruh Allah yang diberi amanat untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang sudah tersesat kemasukan pengaruh ajaran Iblis dan sudah jauh menyimpang dari jalan yang benar yang diajar oleh nabi-nabi yang terdahulu karena Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terlalu lama terlantar dalam kesesatan dan hidup dalam kegelapan tanpa diutuskan seorang rasul yang menuntun mereka ke jalan yang benar dan penghidupan yang diredhai-Nya. Maka percayalah kamu kepada ku gunakanlah akal fikiran kamu berimanlah dan bersujudlah kepada Allah Tuhan seru sekalian alam Tuhan yang menciptakan kamu menciptakan langit dan bumi menurunkan hujan bagi menyuburkan tanah ladangmu, menumbuhkan tumbuh0tumbuhan bagi meneruskan hidupmu. Bersembahlah kepada-Nya dan mohonlah ampun atas segala perbuatan salah dan tindakan sesatmu, agar Dia menambah rezekimu dan kemakmuran hidupmu dan terhindarlah kamu dari azab dunia sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Nuh dan kelak azab di akhirat. Ketahiulah bahawa kamu akan dibangkitkan kembali kelak dari kubur kamu dan dimintai bertanggungjawab atas segala perbuatan kamu di dunia ini dan diberi ganjaran sesuai dengan amalanmu yang baik dan soleh mendpt ganjaran baik dan yang hina dan buruk akan diganjarkan dengan api neraka. Aku hanya menyampaikannya risalah Allah kepada kamu dan dengan ini telah memperingati kamu akan akibat yang akan menimpa kepada dirimu jika kamu tetap mengingkari kebenaran dakwahku."

Kaum Aad menjawab: " Kami bertambah yakin dan tidak ragu lagi bahawa engkau telah mendpt kutukan tuhan-tuhan kami sehingga menyebabkan fikiran kamu kacau dan akalmu berubah menjadi sinting. Engkau telah mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal bahwa jika kami mengikuti agamamu, akan bertambah rezeki dan kemakmuran hidup kami dan bahawa kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami dan menerima segala ganjaran atas segala amalan kami.Adakah mungkin kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami setelah kami mati dan menjadi tulang-belulang. Dan apakah azab dan seksaan yang engkau selalu menakut-nakuti kami dan mengancamkannya kepada kami? Semua ini kami anggap kosong dan ancaman kosong belaka. Ketahuilah bahwa kami tidak akan menyerah kepadamu dan mengikuti ajaranmu karena bayangan azab dan seksa yang engkau bayang-bayangkannya kepada kami bahkan kami menentang kepadamu datangkanlah apa yang engkau janjikan dan ancamkan itu jika engkau betul-betul benar dalam kata-katamu dan bukan seorang pendusta."

Baiklah! jawab Nabi Hud," Jika kamu meragukan kebenaran kata-kataku dan tetap berkeras kepala tidak menghiraukan dakwahku dan meninggalkan persembahanmu kepada berhala-berhala itu maka tunggulah saat tibanya pembalasan Tuhan di mana kamu tidak akan dpt melepaskan diri dari bencananya. Allah menjadi saksiku bahwa aku telah menyampaikan risalah-Nya dengan sepenuh tenagaku kepada mu dan akan tetap berusaha sepanjang hayat kandung bandaku memberi penerangan dan tuntunan kepada jalan yang baik yang telah digariskan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya."

Pembalasan Allah Atas Kaum Aad

Pembalasan Tuhan terhadap kaum Aad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua perinkat.Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mrk, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan, kalau-kalau mereka tidak memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya.Dalam keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahawa kekeringan itu adalah suatu permulaan seksaan dari Allah yang dijanjikan dan bahwa Allah masih lagi memberi kesempatan kepada mereka untuk sedar akan kesesatan dan kekafiran mrk dan kembali beriman kepada Allah dengan meninggalkan persembahan mrk yang bathil kemudian bertaubat dan memohon ampun kepada Allah agar segera hujan turun kembali dengan lebatnya dan terhindar mrk dari bahaya kelaparan yang mengancam. Akan tetapi mereka tetap belum mahu percaya dan menganggap janji Nabi Hud itu adalah janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi menghadap berhala-berhala mereka memohon perlindungan ari musibah yang mereka hadapi.

Tentangan mrk terhadap janji Allah yang diwahyukan kepada Nabi Hud segera mendapat jawapan dengan dtgnya pembalasan tahap kedua yang dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di atas mereka yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira, karena dikiranya bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun mereka yang sedang mengalami kekeringan.
Melihat sikap kaum Aad yang sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud dengan nada mengejek: "Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yang telah ku janjikan dan kamu ternanti-nanti untuk membuktikan kebenaran kata-kataku yang selalu kamu sangkal dan kamu dusta.

Sejurus kemudian menjadi kenyataanlah apa yang diramalkan oleh Nabi Hud itu bahawa bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin taufan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang mencemaskan yang telah merusakkan bangunan-bangunan rumah dari dasarnya membawa berterbangan semua perabot-perabot dan milik harta benda dan melempar jauh binatang-binatang ternak. Keadaan kaum Aad menjadi panik mereka berlari kesana sini hilir mudik mencari perlindungan .Suami tidak tahu di mana isterinya berada dan ibu juga kehilangan anaknya sedang rumah-rumah menjadi sama rata dengan tanah. Bencana angin taufan itu berlangsung selama lapan hari tujuh malam sehingga sempat menyampuh bersih kaum Aad yang congkak itu dan menamatkan riwayatnya dalam keadaan yang menyedihkan itu untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi umat-umat yang akan datang.

Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan Allah dari bencana yang menimpa kaumnya yang kacau bilau dan tenang seraya melihat keadaan kaumnya yang kacau bilau mendengar gemuruhnya angin dan bunyi pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang berjatuhan serta teriakan dan tangisan orang yang meminta tolong dan mohon perlindungan.
Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah " Al-Ahqaf " sudah menjadi sunyi senyap dari kaum Aad pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut, di mana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana dimana hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah bukit di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun dikunjungi para penziarah yang datang beramai-ramai dari sekitar daerah itu, terutamanya dan bulan Syaaban pada setiap tahun.

Kisah Nabi Hud Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Hud diceritakan oleh 68 ayat dalam 10 surah di antaranya surah Hud, ayat 50 hingga 60 , surah " Al-Mukminun " ayat 31 sehingga ayat 41 , surah " Al-Ahqaaf " ayat 21 sehingga ayat 26 dan surah " Al-Haaqqah " ayat 6 ,7 dan 8.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Hud A.S.

Nabi Hud telah memberi contoh dan sistem yang baik yang patut ditiru dan diikuti oleh juru dakwah dan ahli penerangan agama.Beliau menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala itu dengan penuh kesabaran, ketabahan dan kelapangan dada. Ia tidak sesekali membalas ejekan dan kata-kata kasar mereka dengan serupa tetapi menolaknya dengan kata-kata yang halus yang menunjukkan bahawa beliau dapat menguasai emosinya dan tidak sampai kehilangan akal atau kesabaran.

Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar ketika kaumnya mengejek dengan menuduhnya telah menjadi gila dan sinting. Ia dengan lemah lembut menolak tuduhan dan ejekan itu dengan hanya mengata:"
Aku tidak gila dan bahawa tuhan-tuhanmu yang kamu sembah tidak dapat menggangguku atau mengganggu fikiranku sedikit pun tetapi aku ini adalah rasul pesuruh Allah kepadamu dan betul-betul aku adalah seorang penasihat yang jujur bagimu menghendaki kebaikanmu dan kesejahteraan hidupmu dan agar kamu terhindar dan selamat dari azab dan seksaan Allah di dunia mahupun di akhirat."

Dalam berdialog dengan kaumnya.Nabi Hud selalu berusaha mengetok hati nurani mereka dan mengajak mereka berfikir secara rasional, menggunakan akal dan fikiran yang sihat dengan memberikan bukti-bukti yang dapat diterima oleh akal mereka tentang kebenaran dakwahnya dan kesesatan jalan mereka namun hidayah iu adalah dari Allah, Dia akan memberinya kepada siapa yang Dia kehendakinya.

Kisah Nabi Nuh

Nabi Nuh adalah nabi keempat sesudah Adam, Syith dan Idris dan keturunan kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin Idris.


Dakwah Nabi Nuh Kepada Kaumnya

Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa "fatrah" masa kekosongan di antara dua rasul di mana biasanya manusia secara beransur-ansur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan kembali bersyirik meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
Demikianlah maka kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala ialah patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri disembahnya sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan.berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera kebodohan mereka.Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka " Wadd " dan " Suwa " kadangkala " Yaguts " dan bila sudah bosan digantinya dengan nama " Yatuq " dan " Nasr ".

Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis itu, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid menyembah Allah Tuhan sekalian alam melakukan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.
Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh Allah berupa langit dengan matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam menjadi siang dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh juga memberitakan kepada mereka bahwa akan ada gajaran yang akan diterima oleh manusia atas segala amalannya di dunia iaitu syurga bagi amalan kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadap perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.

Nabi Nuh yang dikurniakan Allah dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.

Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tanaganya berdakwah kepda kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang mahupun malam dengan cara berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka terbyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dpt menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya, yang menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan seratus orang  Mereka pun terdiri dari orang-orang yang miskin berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan tingi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan mengagalkan usaha dakwah Nabi nuh.

Berkata mereka kepada Nabi Nuh:"Bukankah engkau hanya seorang daripada kami dan tidak berbeda drp kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau hanya dpt diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta tuli tanpa memikirkan dan menimbangkan masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Cuba agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada kami itu betul-betul benar, nescaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya orang-orang yang mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudak kami menerima ajakanmu dan dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soaL-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui drpmu tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalh pendusta belaka."

Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya:"Adakah engkau mengira bahwa aku dpt memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakan ku dan tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap mempertahakan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki.Aku hanya seorang manusia yang mendpt amanat dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan gajaran-Nya keatas diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan seksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang berkuasa menurunkan seksa danazab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.".

Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata:"Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani, buruh dan hamaba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena kami tidak dpt bergaul dengan mereka duduk berdampingan dengan mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dpt menerima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan papa."

Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata:"Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai mahupun yang bodoh, yang kaya mahupun miskin, majikan ataupun buruh ,diantara peguasa dan rakyat biasa semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama trehadap agama dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dpt ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan drpku orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dpt mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahawa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran yang sihat. Sesungguhnay kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat.

Pada akhirnya, karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka:"Wahai Nabi Nuh! Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat dan cukup berdialog serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah dengan kami. datangkanlah apa yang engkau benar-benar orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu."

Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya

Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninmggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mangangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingak yang sesuai dengan fitrah dan qudratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan bongkak yang melekat pd para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong diantara sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan an menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus orang, walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-usahanya dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia mengharapkan akan dtg masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan dtg mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh akan kesedaran kaumnya ternyata makin hari makin berkurangan dan bahawa sinar iman dan takwa tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Hal mana Nabi Nuh berupa berfirman Allah yang bermaksud:

"Sesungguhnya tidak akan seorang drp kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka jgnlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka perbuatkan."
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru:"Ya Allah! Jgnlah Engkau biarkan seorang pun drp orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt.mereka."

Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam.

Nabi Nuh Membuat Kapal

Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bhn yang diperlukan untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.
Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dpt bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan cemuhan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membina kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olk dengan mengatakan:"Wahai Nuh! Sejak bila engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal.Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang ankan menarik kapalmu ke laut?"Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh dengan sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab:"Baiklah tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekrg mengejek dan mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bg kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini.Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri kamu."

Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah:"Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda drp-Ku maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.

Dengan iringan"Bismillah majraha wa mursaha"belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.
Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.

Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya:Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah." Kan'aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang:"Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini."

Nuh menjawab:"Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya."
Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.

Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah:"Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalha janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."Kepadanya Allah berfirman:"Wahai Nuh! Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir drp kaummu.Coretlah namanya dari daftar keluargamu.Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku dpt engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya danterjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh."

Nabi Nuh sedar segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sedar bahawa ia tersesat pd saat ia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru:"Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang yang rugi."

Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh:"Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."

Kisah Nabi Nuh Dalam Al-Quran

Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surah di antaranya surah Nuh dari ayat 1 sehinga 28, juga dalam surah "Hud" ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Nuh A.S.

Bahawasanya hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan atau penamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan drp hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kan'aan yang walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.

Maka dalam pengertian inilah dapat difahami firman Allah dalam Al-Quran yang bermaksud:"Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara." Demikian pula hadis Rasulullah s.a.w.yang bermaksud:"Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri."Juga peribahasa yang berbunyi:
"Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu."

Kisah Nabi Idris

Tidak banyak keterangan yang didpti tentang kisah Nabi Idris di dalam Al-Quran mahupun dalam kitab-kitab Tafsir dan kitab-kitab sejarah nabi-nabi.Di dalam Al-Quran hanya terdpt dua ayat tentang Nabi Idris iaitu dalam surah Maryam ayat 56 dan 57:
"Dan ceritakanlah { hai Muhammad kepada mereka , kisah } Idris yang terdpt tersebut di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sgt membenarkan dan seorang nabi. 57 - Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." { Maryam : 56 - 57 }

Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam putera dari Yarid bin Mihla'iel bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam A.S. dan adalah keturunan pertama yang dikurniai kenabian menjadi Nabi setelah Adam dan Syith.
Nabi Idris menurut sementara riwayat bermukim di Mesir di mana ia berdakwah untuk agama Allah mengajarkan tauhid dan beribadat menyembah Allah serta membeeri beberapa pendoman hidup bagi pengikut-pengikutnya agar menyelamat diri darii seksaan di akhirat dan kehancuran serta kebinasaan di dunia. Ia hidup sampai usia 82 tahun.

Diantara beberapa nasihat dan kata-kata mutiaranya ialah : ~
1 . Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.
2 . Orang yang bahagia ialah orang yang berwaspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.
3 . Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa maka ikhlaskanlah niatmu demikian pula puasa dan solatmu.
4 . Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntup sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.

5 . Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.
6 . Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya.
7 . Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya.
8 . Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya seorang tidak dpt bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehinya itu.

Dalam hubungan dengan firman Allah bahawa Nabi Idris diangkat kemartabat tinggi Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahawa Nabi Idris wafat tatkala berada di langit keempat dibawa oleh seorang Malaikat Wallahu a'alam bissawab.

Kisah Nabi Adam

Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya,laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya,menciptakan langit dengan mataharinya,bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Senin, 03 September 2012

Instructional Technology Chapter 1


Chapter 1
The 1994 Definition of the Field
Instructional Technology is the theory and practice of design, development, utilization management and evaluation of processes and resources for learning.

For at least forty years the field of Instructional Technology periodically has pursued processes of collective self-examination, resulting in statements which describe it self professionally. In 1963 such efforts produced the first formal definition of the field. This definition has been updated a number of times, with each change providing new directions for the field. Since the last formal definition seventeen years ago, dramatic changes in the profession and in technology have occurred. Consequently, this process of reexamination has once again evolved. The result of  this collective analysis is the 1994 definition of the field shown above. This book will explore the dimensions of the new definition and its implications for both theory and practice. First, Chapter One will introduce the new definition by discussing the assumptions on which it was based and the implications of its terminology.

Instructional Technology Chapter 3


Chapter 3
The Sources of Influence on Instructional Technology
Instructional Technology has developed and emerged as a separate field with diverse domains of research and practice. Figure 1.1 in Chapter One portrayed the range of activity encompassed within the traditional bound­aries of Instructional Technology Design, Development, Utilization, Management, and Evaluation. Each of these domains was defined and discussed in Chapter Two.
The range of domains in this field reflects its eclectic nature. Ele­ments of research, theory, and practice from related fields have found their way into the sphere of Instructional Technology by adoption and adaptation. As new influences are felt, they typically dominate for a time and then blend into the existing paradigms, but even when orientations become less dominant, their influence is usually not totally lost in either thought or practice. However, the integration of new ideas occurs within, and reflects, the impact of the broader social and technological contexts of the field.

Instructional Technology Chapter 2


Chapter 2
The Domains of the Field

The 1994 definition is built around five separate areas of concern to instructional technologists: Design, Development, Utilization, Management, and Evaluation. These are the domains of the field. In this chapter there are definitions for each of these domains, the domain subcategories, and related concepts.

Instructional Technology Chapter 4


Chapter 4
The Practice of Instructional Technology

Instructional Technology has developed through consistent interaction between theory and practice. At times, theory has provided direction for practice, and at other times practice has preceded theoretical analysis. This phenomenon is not unusual for a distinctly applied and practical pro­fession.
The influence of diverse theoretical stances was explored in Chapter Three Instructional Technology is somewhat unique in that it also relics upon models to supplement theory. The most generally used models in the field are procedural in nature, and the vast majority of these models guide the design processes. While these procedural models have a theo­retical basis, most also summarize successful practice or respond to the unique characteristics of a given setting.
Instructional Technology practice has influenced, to a great extent, the evolution of the field and, therefore, has had considerable impact on how the field itself has been defined. Moreover, practice has had more influence than theory on the manner in which the field is viewed by those outside of the field.

Instructional Technology Chapter 5


Chapter 5

Implications of the Definition of Instructional Technology

In Chapter One it was argued that a new definition of Instructional Tech­nology was needed to reflect the growth and diversity of the field today, as well as to serve as a catalyst for creativity and further change. This premise is consistent with Ely's (1983) position that "definitions do not create a field but, rather, help to explain its functions, purposes and roles to those within and those outside the area" (p. 2). This definition effort has the further goal of encouraging the development of a more cohesive community of scholars and practitioners amid extreme diversities of phi­losophy, job, and work context. This chapter will more specifically exam­ine the role and implications of this particular definition in a rapidly chang­ing field.

Minggu, 10 Juni 2012

DI MANA ANAK-ANAK MISKIN DAN BODOH BERSEKOLAH?


Pertanyaan di atas selalu muncul dalam benak penulis setiap kali terjadi proses penerimaan murid baru, terutama di sekolah-sekolah negeri, baik ketika masih memakai DANEM (Daftar Nilai Ebtanas Murni) maupun setelah kembali memakai model tes. Pasalnya, dua model penerimaan murid baru itu hanya mengakomodasi tiga kelompok saja, yaitu kelompok anak kaya dan pintar, anak pintar tapi miskin, dan anak bodoh tapi kaya. Kelompok keempat, anak yang miskin sekaligus bodoh, tidak pernah diakomodasi ke dalam kedua sistem  yang ada, sehingga mereka semakin termarjinalisasi. Bukan hanya dalam memper­oleh akses pendidikan, tapi juga dalam proses sosialisasi dan mobilitas vertikal.
Peluang terbesar untuk memperoleh akses pendidikan yang baik dimiliki oleh anak kaya dan pintar, karena memiliki nilai yang bagus sehingga bebas memilih sekolah yang diinginkan. Bahkan ketika sistem penerimaan murid baru dengan meng­gunakan model tes seperti sekarang, yang memungkinkan ada negosiasi soal biaya yang harus dibayar, mereka tetap memiliki peluang terbesar karena selain memiliki kemampuan untuk mengerjakan soal, juga memiliki kemampuan untuk membayar pungutan yang ditarik oleh pihak sekolah.
Peluang terbesar kedua dimiliki oleh anak-anak miskin tapi pintar. Pada waktu penerimaan berdasarkan DANEM, mereka dengan mudah dapat masuk ke sekolah-sekolah negeri karena NEM mereka cukup tinggi. Di sekolah-sekolah swasta favorit, peluangnya terbatas karena sekolah tersebut menggunakan sistem seleksi ganda, yaitu DANEM dan tes wawancara. Mereka sering gugur pada waktu tes wawancara, karena tes wawancara itu hanya merupakan bentuk kamuflase dari mekanisme menarik biaya yang lebih besar.
Perubahan sistem penerimaan murid baru dari DANEM ke model tes seperti sekarang, sedikit menutup peluang kelom­pok kedua ini di sekolah-sekolah negeri, terlebih sekolah swasta favorit, karena kemampuan membayar uang gedung murid sering lebih menentukan diterima tidaknya seseorang sebagai murid baru daripada hasil tes murni yang dicapai oleh calon murid.
Peluang terluas ketiga untuk memperoleh akses pendidikan yang baik dimiliki oleh anak-anak yang bodoh, tapi orang tuanya kaya. Pada sistem penerimaan murid baru dengan model DANEM, peluang mereka untuk masuk ke sekolah-sekolah nege­ri memang terbatas karena sekolah-sekolah negeri pada umum­nya hanya menggunakan sistem DANEM saja. Tapi untuk masuk ke sekolah-sekolah swasta, termasuk yang favorit, cukup tinggi karena tertolong oleh tes wawancara, yang di sana ada proses tawar menawar soal kesanggupan biaya yang harus dibayarkan.
Permainan itu juga dapat dilakukan dengan pihak sekolah asal atau sekolah sebelumnya sehingga DANEM si anak menjadi tinggi. Sebagai contoh, orang tua murid kongkalikong dengan guru Kelas VI SD atau Kelas III SMP agar anakny a memperoleh DANEM tinggi, sehingga dapat masuk ke sekolah negeri favorit. Per­mainan semacam itu terjadi di banyak tempat di seluruh Indonesia. Motivasinya juga bukan sekadar uang, tapi juga prestise. Sebab, bila alumni dari sekolah itu banyak yang diterima di .sekolah­sekolah negeri, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para guru sehingga mereka senang mengatrol NEM murid, terlebih dibayar. Dengan kembali menggunakan model tes, posisi kelompok ini makin aman karena sistem tes itu memungkinkan terjadinya proses tawar menawar soal kemampuan mem­bayarnya, sehingga ketidakmampuan mengerjakan soal-soal tes dapat ditutup dengan kemampuan membayarnya.
1. Sekolah Pinggiran
Peluang yang paling sempit, atau bahkan dapat dikatakan tertutup, adalah bagi anak-anak miskin sekaligus bodoh. Satu­satunya peluang yang terbuka bagi mereka adalah di sekolah­sekolah swasta tidak bermutu yang secara fisik lokasinya berada di pinggiran kota atau daerah terpencil. Kalau di tengah per­kotaan, sekolah itu berada di tengah daerah pemukiman yang padat, kumuh, dan semrawut sehingga tidak kondusif untuk proses belajar mengajar. Hal itu disebabkan mereka tidak memi­liki modal apa pun yang diperlukan sebagai syarat untuk masuk ke sekolah, baik ketika memakai sistem DANEM maupun model tes. Bahkan ketika sistem Ujian Akhir Nasional itu diterapkan, kelompok inilah yang paling banyak menjadi korban ketidak­lulusannya.
Ketika sistem DANEM masih digunakan, karena NEM mereka amat rendah, mereka tidak bisa masuk ke sekolah negeri yang hanya menggunakan sistem seleksi tunggal. Sedangkan kalau mau masuk ke sekolah-sekolah swasta favorit, selain NEM mereka jelek, mereka juga tidak memiliki kemampuan membayar yang tinggi. Jadi satu-satunya pilihan yang tersedia bagi mereka adalah sekolah-sekolah pinggiran yang model rekrutmen murid­nya memang hanya mengandalkan sisa-sisa (Jawa: koretan) calon murid, baik yang tidak diterima di sekolah negeri, swasta favo­rit, maupun swasta menengah.
Nasib buruk yang sama dirasakan pula ketika mekanisme rekrutmen murid baru di sekolah-sekolah negeri maupun swasta menggunakan model tes dan wawancara. Kelompok ini, karena modal dasarnya memang sangat lemah, tidak memiliki ke­mampuan untuk mengerjakan soal dengan baik, juga tidak memiliki daya tawar berdasarkan kemampuan membayar biaya sekolah yang tinggi, sehingga tidak tersedia ruang bagi mereka, baik di sekolah-sekolah negeri maupun swasta yang bagus. Dalam kondisi yang serba terpaksa itu, tak ada pilihan lain bap mereka kecuali hanya di sekolah-sekolah swasta kecil, yang lokasinya di pinggiran kota atau pelosok pedesaan, yang pra­sarana dan sarananya minim, mutunya jelek, disiplinnya ren­dah, dan biayanya relatif tinggi menurut ukuran mereka kareno ditanggung penuh oleh murid. Pemerintah justru cenderung menghindari memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah semacam itu. Kalaupun ada, jumlahnya kecil dibanding sekolah-sekolah yang lebih besar atau mapan. Pemerintah lebih suka membantu sekolah-sekolah yang sudah mapan daripada mem­bantu sekolah-sekolah yang miskin dan di pinggiran tersebut, karena dapat diklaim sebagai hasil kinerja mereka.
Sebetulnya, mereka menjadi miskin dan bodoh bukan semata-mata kesalahan mereka sendiri, tapi karena struktur sosial yang sejak awal tidak adil, sehingga tidak memberikan ruang kepada kelompok miskin ini untuk melakukan mobilitas horizontal maupun vertikal. Kelompok miskin dan bodoh itu akhirnya terjebak pada lingkaran kemiskinannya. Celakanya, pendidikan yang seharusnya membuat manusia lebih berkemanusiaan dan berkeadilan, justru semakin melegitimasi dan bahkan menyuburkan ketidakadilan tersebut, terutama melalui pilihan-pilihan mencari pasangan hidup. Sebagai contoh, -seseorang yang berpendidikan S2 cenderung mencari pasangan hidup yang berpendidikan setara, atau paling tidak S1. Seseorang yang berijasah S1 cenderung mencari pasangan hidup mini­mal Diploma, syukur bisa di atasnya. Lulusan SMA mencari pasangan hidup sesama lulusan SMA atau minimal SMP. Sedangkan bagi lulusan SMP ke bawah (termasuk yang tidak bersekolah), tidak tersedia pilihan lain kecuali sesama yang berpendidikan SMP atau SD atau bahkan buta huruf.
Bila tinggi rendahnya pendidikan itu memiliki korelasi positif dengan jenis pekerjaan, gaji, dan fasilitas lain yang diperoleh, maka dengan sendirinya pasangan sesama S2-S3 akan berpenghasilan sangat tinggi (ada yang mencapai ratusan juta rupiah per bulan). Pasangan antar sesama S1 juga memiliki jenis pekerjaan yang relatif baik, dengan tingkat gaji dan fasilitas lain yang bagus. Begitu seterusnya: semakin rendah tingkat pendidik­annya, semakin rendah pula gaji yang diterima serta fasilitas yang tersedia. Giliran pada pasangan yang buta huruf, jangankan pendapatan dan fasilitas, pekerjaan pun belum tentu mereka dapatkan, sehingga mereka kernudian menjadi pengemis, penga­men, pemulung, atau bahkan gelandangan.
Tapi, ini yang terjadi, baik pasangan sesama S2-S3 maupun sesama buta huruf sama-sama ingin memiliki keturunan. Sama­sama melalui proses biologis dan sama-sama dilahirkan oleh manusia, tapi sudah pasti produknya akan sangat jauh berbeda. Anak-anak dari golongan yang berpendidikan, jauh sebelum di- proses, sudah dipersiapkan secara matang, dari soal pilihan jenis makanan yang bergizi, bahan bacaan yang perlu dikonsumsi, musik yang perlu didengar, dan sebagainya yang semuanya bertujuan agar anak yang dikandungnya nanti lahir menjadi anak yang cerdas dan berbudi luhur. Sedangkan anak-anak dari pasangan yang tidak berpendidikan tersebut, sudah lahir pun tidak dipelihara dengan baik. Jangankan tumbuh menjadi anak pintar, bisa hidup sehat pun itu sudah rahmat yang tidak ter­hingga. Dengan kata lain, pernikahan dari pasangan yang ter­marjinalisasi itu sebetulnya hanya merupakan proses reproduksi kemiskinan dan kebodohan. Dan celakanya, pendidikan yang ada semakin menyuburkan proses reproduksi kemiskinan dan kebodohan tersebut.
2. Pendidikan: Sumber Masalah
Bagi anak-anak miskin dan bodoh itu, sekolah bukan sarana mobilitas horizontal maupun vertikal yang baik, tapi akumulasi kekecewaan sekaligus arena membangun kesadaran kolektif atas ketidakadilan sosial di masyarakat. Sebab, di sekolah mereka berinteraksi dengana sesama pelajar yang memiliki nasib sama buruknya. Anak-anak yang memiliki nasib lebih baik sudah di­kumpulkan tersendiri di sekolah-sekolah swasta dengan status "Diakui". Sedangkan anak-anak yang memiliki nasib terbaik dikumpulkan tersendiri di sekolah-sekolah negeri favorit mau­pun sekolah-sekolah swasta dengan status "Disamakan".
Berbeda, misalnya, jika anak-anak miskin dan bodoh itu dapat bersekolah di sekolah-sekolah negeri yang biayanya di­tanggung oleh negara. Selain dari segi biaya mereka juga lebih ringan, dari pola pergaulannya pun menjadi beragam: mereka tidak hanya berinteraksi dengan sesama anak miskin dan bodoh, tapi juga dengan anak yang mungkin kaya sekaligus pintar, anak yang pintar tapi mungkin miskin, atau juga anak yang bodoh tapi kaya.
Adanya interaksi yang intens antara anak-anak miskin bodoh dengan sesama anak-anak dari ketiga lapisan sosial tersebut dapat membuka wawasan mereka lebih berkembang,
relasi sosial lebih luas, dan sangat mungkin pula kelak mereka dapat membangun kerja sama yang saling menguntungkan.Sehingga, yang miskin dan bodoh dapat mengalami mobilisasi vertikal, sedangkan yang kaya dan pinter bisa lebih peka dan toleran terhadap yang miskin dan bodoh.
Text Box: 342Tapi dengan mengkotakkan anak-anak miskin dan bodoh ke dalam satu kotak tersendiri, yaitu masuk ke sekolah-sekolah pinggiran yang tidak bermutu, disiplin rendah, dan biayanya realtif tinggi (karena mereka tanggung sendiri), maka sistt'iu pendidikan yang ada sebetulnya hanya semakin melanggengkan, ketidakadilan sosial yang ada di masyarakat sekaligus merusa solidaritas sosial, karena anak-anak muda sudah dikelompokkan sesuai dengan kelas sosialnya, sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk membangun relasi sosial yang lebih manusiawi dan berkeadilan. Sekolah justru mengelompokkan anak pintar dan kaya dalam satu kelompok, anak yang bodoh dan miskin dalam satu kelompok tersendiri. Ini jelas tidak sehat, baik bagi perkembangan jiwa anak maupun untuk kepentingan solidaritas sosial. Sebab, rasa cemburu dari golongan miskin dan bodoh terhadap yang kaya dan atau pintar itu tidak dieliminasi, tapi justru dipupuk dan dikembangkan secara sistematik.
Sistem pendidikan seperti itu cenderung akan menum­buhkan kekecewaan mendalam pada golongan miskin dan bodoh. Ekspresi kekecewaan bagi golongan miskin dan bodoh terhadap ketidakadilan sosial yang ada di masyarakat itu, mereka wujudkan dalam bentuk tawuran antarpelajar. Bila di­telisik lebih jauh, dapat diketahui bahwa pelajar yang terlibat dalam tawuran sesama pelajar itu mayoritas berasal dari sekolah­sekolah swasta kecil atau di pinggiran kota, yang asal usul murid­nya dari golongan miskin dan bodoh. Menurut penuturan bebera­pa guru dari murid yang terlibat tawuran, pada saat masuk ke sekolah (umumnya sekolah kejuruan), NEM si anak itu amat rendah, sehingga mereka memang tidak dapat diterima di seko­lah negeri. Juga tidak bisa diterima di SMA swasta bermutu. Satu-satunya sekolah yang dapat menampung mereka adalah sekolah kejuruan swasta.
Dilihat dari latar belakangnya, pelajar yang sering terlibat tawuran umumnya tinggal di perkampungan padat (sebagian di rumah petak dari papan) yang sumpek, berisik, semrawut. Di sekolah, mereka berinteraksi secara intens dengan anak-anak lain yang sama-sama mengalami kekecewaan dalam segala hal. Sekolah yang semula diharapkan dapat menjadi ruang publik bagi mereka untuk mengekspresikan kemampuannya, ternyata cenderung represif akibat dari keterbatasan prasarana dan sarana yang bersangkutan. Di jalanan, mereka harus berjuang susah payah untuk memperoleh angkutan umum yang mau mengangkut mereka dengan ongkos tarif pelajar. Sebab, tarif khusus bagi pelajar ternyata tidak menolong mereka; sebaliknya justru menciptakan beban baru bagi mereka.
Akumulasi kekecewaan demi kekecewaan itu kemudian memupuk naluri agresivitas mereka, yang kemudian dengan mudah dapat dipancing untuk tawuran. Begitu terkena gesekan sedikit, mereka langsung tawuran. Dan gesekan yang memicu timbulnya tawuran itu, biayanya terjadi saat para pelajar menung­gu bus kota di halte yang begitu lama. Dalam suasana otak yang bunek dan jiwa yang frustasi mênunggu angkutan umum yang mau mengangkut, mereka mudah sekali dipancing untuk tawur­an. Dengan kata lain, tawuran pelajar itu tidak memiliki kaitan logis dengan tingkat pemahaman agama mereka, melainkan dengan masalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial yang mere­ka rasakan, baik di rumah maupun di sekolah.
Kondisi serupa terjadi pada PTN kita. PTN hanya meng­akomodasi anak-anak pintar sekaligus kaya serta anak bodoh tapi kaya. Anak-anak pintar tapi miskin, peluangnya sqkarang semakin terbatas. Apalagi anak-anak bodoh dan miskin, tidak ada ruang sama sekali di pendidikan tinggi di Indonesia, apalagi PTN. Perubahan status PTN menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) semakin menutup peluang anak-anak miskin dan bo­doh untuk memperoleh akses pendidikan tinggi karena mereka dianggap tidak pantas masuk PT. Padahal, bagaimana mungkin yang miskin dan bodoh ini dapat mengubah nasibnya sehingga keturunannya bisa kaya dan pintar, bila negara tidak pernah menyediakan kesempatan sedikit pun kepada mereka?
Uraian di atas jelas, bahwa pendidikan nasional, negeri mau­pun swasta, dari SD-PT, hanya menciptakan kesenjangan sosial sekaligus kemiskinan struktural. Sebab, anak-anak bodoh dan miskin itu setelah lepas dari sekolah hanya bekerja sebagai buruh pabrik, buruh bangunan, buruh tani, buruh serabutan, atau pekerja sektor informal, yang pendapatannya selain kecil, juga tidak stabil dan rawan PHK atau kena gusur. Mereka pun meni­kah dengan pasangan yang berasal dari kelas sosial sama rendah, sehingga hanya mereproduksi kemiskinan dan kebodohan saja. Sedangkan anak-anak ketiga golongan tadi bekerja di sektor­sektor white color dengan gaji tinggi dan fasilitas lengkap, sehingga anak-anak mereka kelak tumbuh dalam suasana yang kondusif untuk pintar, maju, dan kaya, melebihi orang tuanya.
Kebijakan pendidikan nasional yang tidak adil itu jelas perlu diubah agar lebih adil dan manusiawi. Negara tidak boleh hanya memfasilitasi kelompok-kelompok mampu saja, tapi semua kelompok kelompok masyarakat wajib difasilitasi: Konsekuensi dari sikap politis yang semacam itu adalah, semua kebijakan yang tidak mendukung terciptanya sistem yang adil itu harus digugat dan diubah agar menjadi lebih berkeadilan. Negara wajib menerapkan kebijakan affirmative action guna menampung anak-anak yang miskin dan bodoh tersebut. Caranya, negara memberikan alokasi ruang yang cukup bagi kaum miskin dan bodoh untuk bisa bersekolah di sekolah-sekolah negeri. Jangan sampai sekolah-sekolah negeri yang dibiayai oleh negara justru dihuni hanya oleh anak-anak orang kaya saja. Sebaliknya, yang miskin justru harus bersekolah di sekolah-sekolah swasta kecil yang biayanya mereka pikul sendiri.
Bila sistem penerimaan murid baru yang ada selama ini tidak memungkinkan anak-anak miskin dan bodoh bersekolah di sekolah-sekolah negeri, maka secara otomatis sistem peneri­maan murid baru itu wajib diubah. Bukan hanya menggunakan sistem tunggal dalam bentuk tes ujian masuk, tapi juga menda­sarkan pada kemampuan sosial ekonomi talon murid. Bila kita mengacu pada tugas negara untuk mencerdaskan bangsa, maka hukumnya wajib bagi pemerintah untuk menerima semua anak yang bodoh dan miskin itu bersekolah di sekolah negeri. Sebab, kalau institusi negara dan juga pegawai negara saja tidak mau memandaikan mereka, lalu siapa yang wajib memandaikan mereka? Sangat tidak adil bila beban untuk mencerdaskan mereka yang miskin dan bodoh itu justru ditumpukan kepada para penyelenggara pendidikan swasta yang miskin dan tikla mendapatkan bantuan dari negara.
Negara juga wajib mendorong masyarakat agar mereka yang secara ekonomis mampu lebih baik memilih sekolah d swasta, sehingga semakin banyak ruang yang tersedia di sekolah-sekolah negeri bagi golongan miskin dan bodoh. Bahkan kalau kita mau berpikir ideal, sekolah-sekolah negeri itu memang untuk publik (publik tidak dibatasi oleh stratifikasi sosial), sedangkan mereka yang ingin berkompetisi secara ketat dipersilakan bersekolah di sekolah-sekolah swasta yang bagus. Bagi penulis, jauh lebih baik bila sekolah-sekolah swasta kecil tidak bermutu itu ditutup, dan anak-anak miskin-bodoh ditampung di sekolah-sekolah negeri semua, sedangkan swasta yang boleh hidup hanya sekolah-sekolah swasta yang berrnutu saja. Daripada membiarkan anak-anak yang miskin dan bodoh tetap bersekolah di sekolah-sekolah swasta yang tidak bermutu, disiplin rendah, dan biayanya relatif tinggi. Ini sangat tidak adil
Ironis juga, bila negara yang diberi mandat untuk mencer­daskan warganya justru lebih memfasilitasi orang-orang yang sudah pintar dan kaya. Juga guru-guru yang dibayar oleh negara justru mendidik anak-anak yang sudah pintar, sedangkan guru-guru swasta kecil yang bayarannya dengan ucapan “terima kasih" malah diberi tugas untuk memintarkan orang-orang miskin dan bodoh.
Affirmative action itu tidak hanya untuk tingkat SMP-SMA saja, tapi juga pendidikan tinggi negeri. Sebab, tanpa kebijakan affirmative action, sulit dibayangkan anak-anak yang miskin dan bodoh itu akan mengenyam pendidikan tinggi, karena sistem yang ada tidak memberikan jalan sedikit pun kepada mereka Padahal kalau mereka difasilitasi, sangat mungkin kepandaian mereka akan meningkat tajam. Sebab, kebodohan mereka lebih disebabkan ketiadaan fasilitas yang mendukungnya.
Sayang, meskipun rasional, pemikiran di atas sulit diterima oleh pengambil kebijakan. Dirjen Pendidikan Dasar dan mengah, Indra Jati Sidi, misalnya, langsung menolak gagasan penulis itu. Menurutnya, kebijakan itu dapat berakibat pada merosotnyd mutu pendidikan nasional. Ia mencontohkan, SMA I Jakarta tempat ia bersekolah. Dulu pada zamannya, 70% lulusan dari SMA I Jakarta bisa diterima di ITB dan UI, tapi setelah diterapkan sistem rayon persentase yang diterima di ITB dan UI menurun dratis.
Argumen Pak Dirjen itu betul. Tapi ia lupa bahwa menu­runnya mutu di SMA tersebut berarti meningkatnya mutu di tempat lain, sehingga persentase lulusan SMA lain yang diterima di ITB dan UI pun meningkat. Atau bahkan semula tidak ada sama sekali yang diterima di ITB dan UI, sekarang menjadi ada. Terbukti UI dan ITB tidak pernah kekurangan calon mahasiswa yang memenuhi syarat untuk dapat diterima. Dengan kata lain, di sini terjadi pemerataan mutu pendidikan nasional.
Bagi penulis, kebijakan affirmative action ini selain lebih efek­tif, karena bersifat massif di seluruh negeri, juga mengembalikan peran negara pada tugas pencerdasan bangsa. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak melaksanakan mandat yang diberi­kan kepadanya. Sekolah-sekolah negeri itu memang didirikan untuk melayani semua warga, baik yang kaya, miskin, pintar, dan bodoh. Bukan hanya yang kaya dan pintar saja. Sulit sekali bagi kaum miskin dan bodoh untuk memperoleh layanan pendi­dikan bila negara sendiri tidak menciptakan kebijakan yang kondusif.
Justru, tugas negara yang utama adalah mencerdaskan mere­ka yang bodoh dan miskin itu. Orang yang miskin dan bodoh adalah bagian dari warga negara yang sah dan wajib diberikan hak-hak social dasarnya oleh negara. Negara melakukan pelang­garan HAM bila tidak memenuhi hak-hak dasar mereka. Lagi pula, bila negara menolak tugas tersebut, maka untuk apa harus ada negara dan harus ada Departemen Pendidikan?
3. Menggugat UU Sisdiknas
Apakah keberadaan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) otomatis menjawab perma­salahan yang dikemukakan di atas? Guna menjawab permasa­lahan tersebut, marilah kita lihat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terutama pasal-pasal yang meng­atur mengenai soal hak dan kewajiban bagi warga negara mau­pun bagi negara, seperti yang terdapat pada Bab 4 Hak dan Kewajiban Warga Negara, Orang Tua, Masyarakat, dan Peme­rintah, yang terdiri dari tujuh pasal, yaitu Pasal 5-11, antara lain:
Bagian Kesatu:
Hak dan Kewajiban Warga Negara
Pasal 5
1.    Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berinutu.
2.    Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, men­tal, intelektual, dan/ atau sosial berhak memperoleh pendi­dikan layanan khusus.
3.    Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendi­dikan layanan khusus.
4.    Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.
5.    Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.
Pasal 6
1.    Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
2.    Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlang­sungan penyelenggaraan pendidikan.

Bagian Kedua:
Hak dan Kewajiban Orang Tua
Pasal 7
1.    Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.
2.    Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban mem­berikan pendidikan dasar kepada anaknya.

Bagian Ketiga
Hak dan Kewajiban Masyarakat
Pasal 8
Masyarakat berperan serta dalam perencanaan, pelaksana­an, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.
Pasal 9
Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan
Bagian Keempat:
Hak dan kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah
Pasal 10
Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 11
1.    Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layan­an dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskri­minasi.
2.    Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin terse­dianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun
Berdasarkan bunyi pasal-pasal di atas, jelas bahwa pem­berian hak kepada masyarakat itu langsung disertai dengan pem­berian kewajiban. Sebaliknya, kewajiban bagi negara langsung didahului dengan pengakuan hak-haknya.
Ketidakjelasan dalam pengaturan mengenai hak dan kewa­jiban bagi warga negara maupun bagi negara inilah yang sejak awal perumusan RUU Sisdiknas sudah digugat oleh penulis. Sayang, wacana yang berkembang dalam soal RUU Sisdiknas hanya soal pendidikan agama yang dalam praktiknya justru tidak menimbulkan masalah yang krusial. Sebaliknya, upaya penghapusan hak-hak bagi warga dan penghapusan kewajiban negara yang dalam implementasinya amat bermasalah, justru dalam perdebatan RUU Sisdiknas coba ditutupi. Inilah sebetul­nya kehebatan negara yang mampu membelokkan isu dasar RUU Sisdiknas ke isu yang provokatif, sehingga tujuan negara untuk melepaskan tanggung jawab atas pendidikan warganya itu dapat berlangsung mulus karena masyarakat sudah terfragmentasi ke dalam kelompok-kelompok primordialisme dan sektarianisme yang sengaja dihembuskan untuk mengalihkan isu.